Konsep dasar dari New
media adalah media baru sebagai perantara antara perangkat digital dengan
manusia sebagai makhluk sosial. Manusia dapat lebih interaktif dalam melakukan
suatu interaksi sosial . New media diartikan sebagai media sosial yang dapat
mepermudah seseorang untuk mendapatkan atau memberikan suatu informasi.
Macam-macam bentuk New media dapat berupa Blog, Website, Jejaring Sosial,
Email, dan lain sebagainya yang dapat digunakan untuk melakukan interaksi
digital.
BAGI
KALANGAN MENENGAH ke atas—baik dalam hal pendidikan maupun ekonomi—tentu tak
asing dengan new media. Sebut saja website, blog, facebook, twitter, dan
sebagainya. Ini semua kategori new media.
Menurut Wikipedia, new media merupakan penggabungan media tradisional seperti
film, gambar, musik, pembicaraan atau tulisan, dengan TIK (baca: teknologi
informasi dan komunikasi). Istilah new media baru muncul akhir abad ke-20,
seiring meluasnya akses internet oleh masyarakat.
Vin
Crosbie (2002) dalam karyanya What is new media? menjelaskan ada tiga media
komunikasi. Pertama media interpersonal yang disebut one to one. Media ini
memungkinkan seseorang saling komunikasi atau tukar informasi dengan seseorang
lainnya. Kedua dikenal sebagai mass media. Media ini digunakan sebagai sarana
menyebarluaskan informasi dari satu orang ke banyak orang (one to many). Media
komunikasi terakhir disebut new media. Media ini merupakan percepatan sekaligus
penyempurnaan dari dua media sebelumnya. Lebih jauh media ini digunakan untuk
mengkomunikasi ide maupun informasi dari banyak orang ke banyak orang lainnya
(many to many).
Berdasarkan terminologi di atas, karakteristik new media, yakni dapat memberi
akses ke konten di manapun dan kapanpun, bersifat digital, meru-pakan media
interaktif. Media ini memberi kesempatan siapapun untuk berpartisipasi kreatif
dan kolektif di dalamnya.
Berbeda dengan media konvensional seperti koran atau majalah, new media
bersifat real time, sehingga dapat menyajikan informasi up to date atau
terkini. New media juga dianggap lebih demokratis dan independen baik dalam
pembuatan, penerbitan, distribusi, maupun dalam hal konsumsi konten yang
tersedia. Media ini relatif lebih “merdeka” dalam menyam-paikan informasi
karena tidak terkungkung oleh kekuasaan dan kepentingan penguasa (baik
pemerintah maupun pemegang modal). Begitu juga pembaca bebas menikmati konten
yang disediakan dengan privasi tinggi.
Karena bentuk datanya digital, new media mendukung pencarian data dan informasi
lebih cepat dan mudah. Tidak seperti media konv-ensional yang meng-harus-kan
kita menggunakan teknik pengarsipan yang rumit. Dengan search engine pada new
media kita dapat menemukan informasi apapun walau hanya menggunakan satu kata
kunci.
Dari segi bentuk dan tampilannya pun new media punya banyak kelebihan. Selalu
full color, Animasi maupun video adalah fitur yang selalu mendukung konten new
media. Ini tentu bertolak belakang dengan konten m
edia
tradisional yang cenderung statis.
Sebagai public sphere (ranah publik), new media dapat digunakan sebagai alat
pergerakan sosial. Kita mungkin masih ingat Sejuta Dukungan untuk Bibit Candra,
Gerakan Boikot Pajak, dan lain sebagainya. Ini upaya-upaya menggalang kekuatan
sosial menggunakan new media. Ternyata ia menjadi isu hangat dan desakan
sekaligus parameter dalam pengambilan kebijakan di negeri ini. Demikian juga
saat jatuhnya kekuasaan pemerintahan Hosni Mubarak di Mesir. Salah satunya
karena begitu banyak desakan yang muncul di new med
ia. Mengapa bisa? Tak lain tak bukan karena ketiadaan penghalang
dalam penyampaian pesan politik di new media.
Setiap orang dapat menjadi author, publisher, sekaligus audience di new media.
Karena itu diharapkan new media bisa jadi media independen sekaligus
menumbuhkan citizen journalism, dimana setiap orang dapat berpartisipasi dalam
memberi informasi dan berita. Setiap orang tak mesti harus jadi wartawan dulu
baru dapat menulis berita. Masyarakat luas dapat melakukannya melalui new
media. Kita tak mutlak harus dapat berita dari penerbit surat kabar dan
televisi tertentu. New media tentu siap memberi informasi dan berita kapanpun
dan dimanapun kita berada.
KELEMAHAN NEW MEDIA
Di samping begitu banyak kelebihan, new media juga punya kelemahan. Kontrol
konten yang lemah menyebabkan validasi in
formasi yang ada di new media mesti dipertanyakan. Tidak dapat
dibantah bahwa new media juga dapat dijadikan sarana empuk melakukan provokasi,
menyampaikan hoax (berita bohong), bahkan dapat terjadi illegal access pada
account seseorang yang berujung pada pembunuhan karakter orang tersebut atau
orang lain. Kelemahan lainnya kesulitan memberikan sanksi dan penerapan hukum
pada konten yang bermasalah.
BAGAIMANA PENGGUNAAN NEW MEDIA DI RIAU?
Meningkatnya jumlah pengguna internet di Riau memberi indikasi bahwa penggunaan
new media juga meningkat. Ketika seseorang meng-gunakan internet, akan diikuti
dengan penggunaan new media. Penempatan pengguna facebook sebagai top rank
disusul aktivitas browsing sebagai ke-cenderungan pengguna internet dewasa ini,
menunjukkan new media telah menjadi perhatian publik. Kalau dulu kita lihat
koran atau majalah sebagai teman pendamping duduk beristirahat, kini kebiasaan
itu sedikit banyak beralih pada aktivitas surfing dan update status ditemani
perangkat digital yang bervariasi.
APAKAH CETAK TERGANTIKAN?
Livingstone (1999) mengisyaratkan bahwa new media adalah perkembangan dari
media konven-sional, bukan pengganti. Bahkan Lievrouw (2004) dalam Technology
Determinism menyatakan bahwa lama-kelamaan new media ini akan menjadi hal
biasa.
Kedua pendapat tersebut dapat kita benarkan. Ini tak ubahnya ketika televisi
muncul pertama kali. Banyak orang berpendapat televisi akan meng-gantikan koran
atau majalah. Ternyata sampai kini media cetak tetap eksis, bahkan semakin
banyak kuantitas dan oplahnya.
Mengingat pengguna new media masih terbatas pada kalangan menengah ke atas,
ditambah infrastruktur new media yang layak belum men-jangkau seluruh wilayah,
maka jawaban dari pertanyaan di atas adalah belum mungkin new media
menggantikan media cetak. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa media cetak telah
banyak menggunakan new media (baca: media on-line) sebagai media pendamping.
Artinya beberapa konten yang perlu pendalaman analisa atau liputan tetap
dipertahankan di media cetak, dan konten-konten up to date mereka tampilkan di
new media.
Referensi:
http://antharas14.blogspot.com/2011/10/peng-teknologi-internet-dan-new-media.html
http://bahanamahasiswa.com/pendapat/opini/573-new-media.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar