Sabtu, 06 Oktober 2012

New Media

Konsep dasar dari New media adalah media baru sebagai perantara antara perangkat digital dengan manusia sebagai makhluk sosial. Manusia dapat lebih interaktif dalam melakukan suatu interaksi sosial . New media diartikan sebagai media sosial yang dapat mepermudah seseorang untuk mendapatkan atau memberikan suatu informasi. Macam-macam bentuk New media dapat berupa Blog, Website, Jejaring Sosial, Email, dan lain sebagainya yang dapat digunakan untuk melakukan interaksi digital. 

BAGI KALANGAN MENENGAH ke atas—baik dalam hal pendidikan maupun ekonomi—tentu tak asing dengan new media. Sebut saja website, blog, facebook, twitter, dan sebagainya. Ini semua kategori new media.

Menurut Wikipedia, new media merupakan penggabungan media tradisional seperti film, gambar, musik, pembicaraan atau tulisan, dengan TIK (baca: teknologi informasi dan komunikasi). Istilah new media baru muncul akhir abad ke-20, seiring meluasnya akses internet oleh masyarakat.



Vin Crosbie (2002) dalam karyanya What is new media? menjelaskan ada tiga media komunikasi. Pertama media interpersonal yang disebut one to one. Media ini memungkinkan seseorang saling komunikasi atau tukar informasi dengan seseorang lainnya. Kedua dikenal sebagai mass media. Media ini digunakan sebagai sarana menyebarluaskan informasi dari satu orang ke banyak orang (one to many). Media komunikasi terakhir disebut new media. Media ini merupakan percepatan sekaligus penyempurnaan dari dua media sebelumnya. Lebih jauh media ini digunakan untuk mengkomunikasi ide maupun informasi dari banyak orang ke banyak orang lainnya (many to many).

Berdasarkan terminologi di atas, karakteristik new media, yakni dapat memberi akses ke konten di manapun dan kapanpun, bersifat digital, meru-pakan media interaktif. Media ini memberi kesempatan siapapun untuk berpartisipasi kreatif dan kolektif di dalamnya.

Berbeda dengan media konvensional seperti koran atau majalah, new media bersifat real time, sehingga dapat menyajikan informasi up to date atau terkini. New media juga dianggap lebih demokratis dan independen baik dalam pembuatan, penerbitan, distribusi, maupun dalam hal konsumsi konten yang tersedia. Media ini relatif lebih “merdeka” dalam menyam-paikan informasi karena tidak terkungkung oleh kekuasaan dan kepentingan penguasa (baik pemerintah maupun pemegang modal). Begitu juga pembaca bebas menikmati konten yang disediakan dengan privasi tinggi.

Karena bentuk datanya digital, new media mendukung pencarian data dan informasi lebih cepat dan mudah. Tidak seperti media konv-ensional yang meng-harus-kan kita menggunakan teknik pengarsipan yang rumit. Dengan search engine pada new media kita dapat menemukan informasi apapun walau hanya menggunakan satu kata kunci.

Dari segi bentuk dan tampilannya pun new media punya banyak kelebihan. Selalu full color, Animasi maupun video adalah fitur yang selalu mendukung konten new media. Ini tentu bertolak belakang dengan konten m

edia tradisional yang cenderung statis.

Sebagai public sphere (ranah publik), new media dapat digunakan sebagai alat pergerakan sosial. Kita mungkin masih ingat Sejuta Dukungan untuk Bibit Candra, Gerakan Boikot Pajak, dan lain sebagainya. Ini upaya-upaya menggalang kekuatan sosial menggunakan new media. Ternyata ia menjadi isu hangat dan desakan sekaligus parameter dalam pengambilan kebijakan di negeri ini. Demikian juga saat jatuhnya kekuasaan pemerintahan Hosni Mubarak di Mesir. Salah satunya karena begitu banyak desakan yang muncul di new med

ia. Mengapa bisa? Tak lain tak bukan karena ketiadaan penghalang dalam penyampaian pesan politik di new media.

Setiap orang dapat menjadi author, publisher, sekaligus audience di new media. Karena itu diharapkan new media bisa jadi media independen sekaligus menumbuhkan citizen journalism, dimana setiap orang dapat berpartisipasi dalam memberi informasi dan berita. Setiap orang tak mesti harus jadi wartawan dulu baru dapat menulis berita. Masyarakat luas dapat melakukannya melalui new media. Kita tak mutlak harus dapat berita dari penerbit surat kabar dan televisi tertentu. New media tentu siap memberi informasi dan berita kapanpun dan dimanapun kita berada.


KELEMAHAN NEW MEDIA


Di samping begitu banyak kelebihan, new media juga punya kelemahan. Kontrol konten yang lemah menyebabkan validasi in

formasi yang ada di new media mesti dipertanyakan. Tidak dapat dibantah bahwa new media juga dapat dijadikan sarana empuk melakukan provokasi, menyampaikan hoax (berita bohong), bahkan dapat terjadi illegal access pada account seseorang yang berujung pada pembunuhan karakter orang tersebut atau orang lain. Kelemahan lainnya kesulitan memberikan sanksi dan penerapan hukum pada konten yang bermasalah.


BAGAIMANA PENGGUNAAN NEW MEDIA DI RIAU?


Meningkatnya jumlah pengguna internet di Riau memberi indikasi bahwa penggunaan new media juga meningkat. Ketika seseorang meng-gunakan internet, akan diikuti dengan penggunaan new media. Penempatan pengguna facebook sebagai top rank disusul aktivitas browsing sebagai ke-cenderungan pengguna internet dewasa ini, menunjukkan new media telah menjadi perhatian publik. Kalau dulu kita lihat koran atau majalah sebagai teman pendamping duduk beristirahat, kini kebiasaan itu sedikit banyak beralih pada aktivitas surfing dan update status ditemani perangkat digital yang bervariasi.


APAKAH CETAK TERGANTIKAN?


Livingstone (1999) mengisyaratkan bahwa new media adalah perkembangan dari media konven-sional, bukan pengganti. Bahkan Lievrouw (2004) dalam Technology Determinism menyatakan bahwa lama-kelamaan new media ini akan menjadi hal biasa.

Kedua pendapat tersebut dapat kita benarkan. Ini tak ubahnya ketika televisi muncul pertama kali. Banyak orang berpendapat televisi akan meng-gantikan koran atau majalah. Ternyata sampai kini media cetak tetap eksis, bahkan semakin banyak kuantitas dan oplahnya.


Mengingat pengguna new media masih terbatas pada kalangan menengah ke atas, ditambah infrastruktur new media yang layak belum men-jangkau seluruh wilayah, maka jawaban dari pertanyaan di atas adalah belum mungkin new media menggantikan media cetak. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa media cetak telah banyak menggunakan new media (baca: media on-line) sebagai media pendamping. Artinya beberapa konten yang perlu pendalaman analisa atau liputan tetap dipertahankan di media cetak, dan konten-konten up to date mereka tampilkan di new media.


Referensi:
http://antharas14.blogspot.com/2011/10/peng-teknologi-internet-dan-new-media.html
http://bahanamahasiswa.com/pendapat/opini/573-new-media.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar